Senin, 14 Januari 2008

Sekulerisme dan Post-modernisme

Sekulerisme dan Post-modernisme
Oleh : Ahmad Fahmi Mubarok

Tidak banyak yang tahu bahwa tubuh kita terdiri dari komponen yang terkecil berupa sel. Kumpulan sel membentuk suatu jaringan, kumpulan jaringan mambentuk organ. Organ dengan fungsi yang sama membentuk sistem organ, dan pada akhirnya membentuk organ. Lebih sedikit yang tahu jika tubuh terbentuk dari senyawa karbon, didukung oleh lebih dari 200 potongan tulang yang dirangkai dengan berbagai bentuk persendian. Mulai dari sendi peluru, sendi geser, sendi putar, dan sendi engsel.
Banyak hal yang dapat kita ketahui dengan menggunakan penelitian empirik-saintifik. Fakta semacam ini (eksterior-objektif) diakui oleh banyak kalangan sebagai pengetahuan yang bermanfaat. Namun hal semacam itu bisa dikatakan hanyalah kulit luar manusia, sama sekali tidak menyentuh sisi esensi keberadaan manusia itu sendiri. Katakan sebuah buku, melalui studi empirik-saintifik, bisa diketahui jumlah halaman, jumlah karakter, bahan kertas, tinta yang digunakan, sampai dengan persentase huruf dalam buku tersebut. Tetapi tanpa membacanya, memahami konteks dan maknanya, isi dari buku tersebut tidak akan dapat diketahui.
Demikian halnya dalam memahami manusia, konsep-konsep biologi tidak akan memuaskan pertanyaan filsafati yang sangat menuntut kedalaman pemahaman dan hakikat dari sesuatu, termasuk kita.

A. Pengenalan Diri Kita
“Sebelum memahami orang lain, terlebih dahulu kita pahami diri sendiri” setidaknya itulah salah satu ajaran Plato, sebuah pencarian esensi tentang manusia. Plato menyebut usaha pengenalan tersebut dengan archetype-berasal dari akar kata arche dan thypos (bahasa Yunani) yang berarti cetakan pertama. Dengan penjelasan bahwa terdapat sesuatu yang bersifat asli yang digunakan sebagai model terbentuknya sesuatu yang baru. Misalnya, bentuk ideal Plato (indah, baik, benar) dipandang sebagai archetype yang darinya semua bentuk lain menerima wujudnya. Meskipun akhirnya Carl Gustav Jung menyempitkan makna archetype sebagai pola-pola pemikiran dan pemikiran yang muncul dari ketidak sadaran kolektif yang disebutnya citra primordial.
Senada dengan Plato, Muhammad (Rasul dalam agama islam) juga memberikan petunjuk kepada umatnya “Kenalilah dirimu sebelum mengenal orang lain” dalam ajarannya tentang memanusiakan manusia sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Tuhan. Ataupun Sidharta Gautama dalam ajarannya “Sesungguhnya diri sendiri menjadi tuan bagi diri sendiri. Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri. Oleh karena itu, kenalilah dirimu” dalam upaya mencapai kesempurnaan (nirwana) dalam konsep agama Buddha.
Sebegitu penting usaha pengenalan diri di samping sebagai salah satu jalan untuk memahami orang lain dalam hubungan social, juga sebagai tujuan akhir dari dari penelaahan dan pencarian hakikat manusia.

B. Konsep Kita Pasca Modernisasi
Paradigma modern tentang tidak adanya obyek kebenaran yang bersifat universal (bahkan Tuhan sekalipun), yang ada hanya persepsi dan interpretasi yang berbeda mengenai obyek yang sama, pelan tapi pasti menjauhkan kita dari pengetahuan tentang hakikat yang pada zamannya menjadi tujuan dari semua ilmu pengetahuan. Kita dikenalkan dengan dunia sekuler yang memisahkan batas-batas norma, hukum, nilai-nilai, dan estetika. Semua menjadi tidak terbatas, karena ketidakjelasan yang diciptakan oleh paham sekulerisme.
Menurut teori motivasi Mc Clelland, kita cenderung bertindak untuk mencapai pemenuhan kebutuhan, dan kepuasan. Hanya saja ego yang idealnya menjadi penyeimbang antara id (keinginan) dan super ego (aturan dari lingkungan) tidak lagi berperan sebagaimana mestinya, karena menurunnya konsep diri (ego) itu sendiri. Kita menjadi sangat mementingkan super ego. Super ego/aturan masyarakat yang berdasar pada keinginan-keinginan yang harus dipenuhi tanpa mentolerir adanya pengalihan jika keinginan itu tidak terpenuhi.
Hal ini sebagai bukti semakin melambungnya sekulerisme sebagai primadona di era post-modern. Celakanya hal semacam itu kadang terbungkus dengan permainan bahasa yang etis dan estetis tanpa kita telaah menurut prinsip konsumen bahwa kemasan bukanlah segalanya, meskipun kemasan itu penting

Tidak ada komentar: